Mengatasi Karyawan yang Sering Telat

Anak buah yang acapkali telat dan tidak disiplin mungkin salah satu masalah klasik yang sering Anda hadapi sebagai seorang pemimpin. Saat semua karyawan telah memulai aktifitas mereka masing-masing di kantor, "si biang telat" baru saja menunjukkan batang hidungnya. Macet, hujan, kesiangan adalah beberapa alasan yang sering dipakai. Terdengar meyakinkan tapi kenyataannya banyak karyawan lain yang juga menghadapi masalah yang sama tidak terlambat datang ke kantor.

Berulang kali teguran dan peringatan dilayangkan, namun umumnya perubahan hanya terjadi di beberapa hari pertama. Setelah itu, sang karyawan raja telat kembali ke kebiasaan lamanya. Memusingkan bukan ?

Datang telat memang bukan masalah yang sangat penting jika dibandingkan dengan masalah yang lain seperti karyawan yang menggelapkan uang, atau menjual rahasia perusahaan. Tapi masalah menjengkelkan ini bisa membuat manajemen frustasi dan mempengaruhi produktifitas perusahaan dan kinerja karyawan lainnya. Bahkan di perusahaan retail, jasa serta manufakturing, keterlambatan karyawan bisa memberikan pengaruh cukup besar bagi produktifitas perusahaan.

Walaupun masalah ini sangat menjengkelkan, Anda tidak disarankan menghadapinya dengan kepala panas dan segera memecat karyawan tukang telat ini. Pertahankan coolness dan kontrol kemarahan Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah menyingkirkan kebiasaan telat karyawan tersebut, bukan menyingkirkan karyawan Anda. Ikuti langkah-langkah berikut ini!

1. Tanyakan segera penyebab keterlambatan karyawan tersebut setiap kali ia terlambat.
Buat daftar yang memuat data detail seperti tanggal, jam dan penyebabnya. Karyawan yang telat harus mengetahui bahwa keterlambatan mereka diperhatikan perusahaan.

2. Adakan pertemuan dengan yang karyawan tersebut.
Lalu heart to heart dan berbekal data keterlambatan mereka, jelaskan akibatnya bagi perusahaan dan karyawan lainnya. Sebelum menyampaikan konsekuensi yang didapatkan, tawarkan solusi dengan melibatkan karyawan. Kesepakatan yang diambil tentu saja harus menguntungkan kedua belah pihak.

3. Buat kesepakatan tertulis yang disetujui dan ditandatangani kedua belah pihak.
Pastikan bahwa karyawan tersebut memahami konsekuensi yang akan ia terima jika melanggar kesepakatan bersama.

4. Monitor perkembangan karyawan tersebut
Kesan yang harus ditampilkan adalah bahwa perusahaan konsisten dengan kesepakatan yang telah dicapai dan mengharapkan karyawan tersebut juga bersikap sama.

5. Jika selama proses monitoring karyawan tersebut tidak menunjukkan perubahan atau perbaikan, jangan ragu untuk menerapkan konsekuensi terberat yaitu pemutusan hubungan kerja.
Standar dan peraturan perusahaan tidak akan berfungsi efektif jika Anda sebagai pemimpin tidak konsisten.